KENDARI,IDEKATA.ID, – Tahun 2025 menjadi momen penting dalam perjalanan panjang Republik Indonesia. Delapan puluh tahun sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, bangsa ini tidak lagi muda—ia telah matang, dewasa, dan penuh pengalaman. Namun justru di titik inilah, pertanyaan besar harus kembali diajukan: sudahkah kita benar-benar merdeka? Dan, kemana arah Indonesia ke depan?
Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar penanda umur, melainkan refleksi mendalam tentang nasib dan masa depan bangsa. Yang membuat momen ini kian istimewa adalah kebetulan simbolik yang tak luput dari perhatian: angka 80, diawali oleh “08”, serupa dengan nomor urut Presiden terpilih Prabowo Subianto. Apakah ini sekadar angka? Mungkin. Tapi dalam budaya bangsa, angka dan simbol selalu punya makna dan bisa menjadi pengingat tentang harapan baru yang lahir di tengah transisi kepemimpinan nasional.
Angka Delapan dan Arah Baru
Angka delapan sendiri bukan angka biasa, kerap dipandang sebagai lambang kesinambungan, keseimbangan, dan tak terputus, sebuah simbol dari energi abadi, jika dibaringkan berbentuk infinity. Dalam konteks Indonesia hari ini, angka delapan mengingatkan kita pada program prioritas nasional dari Presiden dan Wakil Presiden terpilih: Asta Cita—delapan cita-cita besar untuk membawa Indonesia menuju negara maju, adil, dan sejahtera.
Namun cita-cita hanyalah kertas, jika tidak diwujudkan dengan kerja nyata. Delapan program tersebut hanya akan menjadi jargon jika tidak hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat yang berkaitan dengan harga pangan yang stabil, kesehatan yang terjangkau, pendidikan yang berkualitas, hingga keadilan hukum yang merata. Minggu (17/8/2025)
“Maka, HUT ke-80 RI adalah ujian pertama: mampukah Asta Cita mulai diwujudkan sejak hari pertama pemerintahan dimulai?
Refleksi Spiritual dan Pesan Perjuangan
Lebih menarik lagi, jika kita menilai dari sisi spiritual, angka delapan menyimpan makna yang dalam. Dalam Al-Qur’an, juz ke-8 memuat Surah Al-Anfal ayat 8, yang berbunyi:
“Agar Allah memperkuat yang hak dan menghilangkan yang batil, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.”
Ayat ini terasa relevan di tengah dinamika politik dan hukum Indonesia hari ini. Upaya penegakan hukum, terutama dalam pemberantasan korupsi, mulai menggeliat, meskipun tak jarang menimbulkan kegaduhan dan resistensi dari kelompok-kelompok yang merasa terusik. Tapi di sinilah makna perjuangan diuji. Apakah kita benar-benar berpihak pada yang hak, meski sulit dan tidak populer?
Sejarah membuktikan: bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menegakkan kebenaran meski di tengah tekanan, dan membersihkan dirinya dari kebatilan meski menyakitkan. Inilah semangat kemerdekaan yang sejati, bukan sekadar bebas dari penjajah, tetapi berani menegakkan keadilan di rumah sendiri.
Tanggung Jawab Seorang Pemimpin
Kami sebagai rakyat, tak hanya menaruh harapan, tetapi juga berdoa agar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diberi kesehatan, kekuatan, dan kejernihan hati dalam mengemban amanah besar ini. Kami ingin melihat seorang pemimpin yang tak hanya hadir di podium dan layar televisi, tetapi hadir di tengah rakyat: mengayomi, mendengarkan, dan bertindak dengan hati nurani.
Kepemimpinan di usia ke-80 bangsa ini bukan sekadar menjalankan rutinitas birokrasi. Ia harus menjadi arah baru, bukan sekadar kelanjutan masa lalu. Kita ingin melihat kebijakan yang progresif, namun tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Kita butuh keberanian untuk memutus rantai korupsi, namun juga kebijakan yang menguatkan ekonomi rakyat kecil.
Merdeka adalah Tanggung Jawab
Delapan puluh tahun merdeka bukan alasan untuk berpuas diri. Justru ini saatnya bangsa ini berintrospeksi secara kolektif. Kita telah menempuh jalan panjang, namun masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan hukum, krisis moral, dan kerusakan lingkungan masih membayangi.
Karenanya, merdeka hari ini bukan hanya perayaan, ia adalah tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menjaga integritas, memperjuangkan keadilan, merawat persatuan, dan menegakkan kebenaran, bahkan ketika itu tidak mudah.
Semoga di usia ke-80 ini, Indonesia tidak hanya menjadi bangsa besar secara geografis dan jumlah penduduk, tapi juga besar dalam cita, matang dalam sikap, dan adil dalam kebijakan.
Dari Simbol ke Aksi Nyata
Dirgahayu ke-80 Republik Indonesia.
Semoga usia ini menjadi titik balik dari simbol ke substansi, dari harapan ke tindakan, dari euforia ke tanggung jawab. Dan semoga pemimpin-pemimpin bangsa ini benar-benar menjadi wakil rakyat, bukan sekadar pejabat negara.
Karena merdeka adalah perjuangan yang terus hidup, bukan sekadar kenangan yang dirayakan.
Merdeka!
Penulis: Molesara












